TPA Srabah Terancam Penuh Sebelum 2030, DLH Trenggalek Siapkan Langkah Antisipasi - METRO JATIM

Breaking

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Jumat, 15 Mei 2026

TPA Srabah Terancam Penuh Sebelum 2030, DLH Trenggalek Siapkan Langkah Antisipasi


Trenggalek, Metro Jatim; 

Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Srabah yang selama ini menjadi andalan Kabupaten Trenggalek untuk mengubur sampah warganya, ternyata tidak sekuat yang diperkirakan. Prediksi penuh yang semula diharapkan terjadi pada tahun 2030, kini harus direvisi. Tahun 2030 mungkin hanya tinggal angka di papan perencanaan.


"Kayaknya sebelum 2030 itu sudah penuh," ujar Fahmi Rizab Syamsudi, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Bahan Berbahaya dan Beracun DLH Trenggalek, dengan nada yang tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran.


Setiap hari, gunungan sampah di TPA Srabah terus meninggi. Tren peningkatan volume sampah yang terjadi setiap tahun menjadi biang kerok. Masyarakat terus berproduksi, terus membuang, dan lahan pembuangan akhir seperti tidak pernah cukup.


Namun, DLH Trenggalek tidak tinggal diam. Saat ini, mereka sedang menghitung ulang kapasitas dan pengelolaan TPA Srabah. Bukan pekerjaan sendiri, mereka menggandeng PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dalam sebuah kajian yang ditargetkan rampung pada 2026. Proses penyusunannya sendiri diperkirakan memakan waktu sekitar delapan bulan.


Fahmi mengakui, sebenarnya masih ada beberapa titik lahan yang berpotensi dimanfaatkan kembali. Pengembangan area landfill atau zona penampungan sampah masih menjadi opsi. Tapi semua masih menggantung. "Masih menunggu hasil kajian teknis," tegasnya.


Yang menarik, kajian ini tidak hanya berbicara soal lahan. DLH juga serius mencari teknologi pengolahan sampah yang paling cocok dengan karakteristik sampah Trenggalek. Salah satu yang sedang digodok adalah Refuse Derived Fuel (RDF), yaitu teknologi yang mengubah sampah menjadi bahan bakar pengganti batu bara untuk industri semen. Beberapa daerah di Indonesia sudah menjalankannya.


Ada pula teknologi pirolisis, yang memanaskan sampah pada suhu tertentu hingga menghasilkan cairan yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar minyak (BBM). Bahkan, sampah juga berpotensi disulap menjadi paving block, kursi, hingga meja melalui proses pencetakan ulang material limbah.


"Sampahnya dilelehkan lalu dicetak jadi paving atau furniture seperti kursi dan meja," imbuh Fahmi.


Kajian yang didukung melalui program CSR PT SMI ini akan menjadi penentu arah kebijakan pengelolaan sampah dan pengembangan TPA Srabah ke depan. Pertanyaannya kini: apakah kajian itu akan selesai sebelum TPA Srabah benar-benar tutup usia? Semua masih menunggu. (Wwn)

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini