Trenggalek, Metro Jatim;
Di balik hiruk-pikuk Pendopo Kabupaten Trenggalek, sebuah pertemuan sederhana menyimpan makna besar tentang masa depan pendidikan. Kamis (23/07/2026), Bupati Mochamad Nur Arifin menyambut kedatangan Virginia Viradita Salsabil, perempuan kelahiran Kelurahan Sumbergedong yang sedang menapaki jenjang pendidikan S2 di Universitas Negeri Yogyakarta.
Bukan sekadar silaturahmi biasa. Pertemuan ini menjadi momen apresiasi atas capaian Salsa panggilan akrabnya yang bersama tiga rekannya berhasil menembus ajang International Essay Competition 10th Faperta Fair di Chiang Mai, Thailand. Sebuah pencapaian yang tak hanya membanggakan nama pribadi, tetapi juga mengharumkan daerah kelahirannya.
Salsa yang akan dibawa ke Thailand bukanlah sekadar rangkaian kata di atas kertas. Di baliknya, ada kegelisahan yang mendalam tentang ketimpangan akses pendidikan bagi anak-anak tuna rungu di sekolah-sekolah Indonesia.
Pertanyaan itulah yang mendorong Salsa dan timnya merancang Smart Visual Bell System (SVBS) sebuah alat bantu visual yang menerjemahkan sinyal audio menjadi informasi yang dapat diakses oleh penyandang disabilitas pendengaran. Masih berbentuk prototipe, inovasi ini diharapkan menjadi jembatan bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk merasakan kemandirian di lingkungan sekolah.
Menariknya, ide ini selaras dengan visi besar Bupati Nur Arifin yang ingin mewujudkan pendidikan inklusif di Trenggalek. "Kita sama-sama ingin pendidikan itu inklusi," ujar Bupati yang akrab disapa Mas Ipin, "akan tetapi butuh waktu, butuh sumber daya manusia juga.
Uniknya, tim yang dibentuk Salsa justru merupakan perwujudan keberagaman Indonesia. Terdiri dari empat orang mahasiswa Fakultas Pendidikan dengan latar belakang berbeda Salsa dari Trenggalek, satu rekannya dari Lampung, satu dari Pacitan, dan satu lagi dari Nusa Tenggara Timur (NTT) mereka membuktikan bahwa kolaborasi tidak mengenal batas geografis.
"Ada yang satu jurusan dengan saya, dua lainnya dari PAUD," jelas Salsa. Meskipun berasal dari daerah yang berbeda-beda, semangat mereka sama: menciptakan solusi bagi teman-teman dengan hambatan pendengaran, tidak hanya untuk sekadar lomba, tetapi juga untuk diaplikasikan di dunia nyata.
Di tengah perbincangan, Mas Ipin memberikan sebuah tawaran menarik. Ia menyarankan Salsa untuk membawa inovasinya ke Festival Gagasan Kabupaten Trenggalek sebuah ajang rutin tahunan yang menjadi wadah bagi warga untuk menuangkan ide-ide inovatif.
"Kalau esainya terbukti, saya saranin Mbak Salsa bersama teman-teman bisa ikut festival gagasan. Untuk gagasan terbaik bisa dibiayai," tutur Mas Ipin seraya memberi contoh keberhasilan program serupa sebelumnya. "Kayak kemarin ada orang bikin Early Warning System, nyatanya kita biayai dan jadi. Sekarang dipasang di beberapa desa yang berisiko bencana."
Peluang ini membuka harapan bahwa prototipe SVBS tidak akan berhenti sebagai konsep di atas kertas. Jika terbukti berhasil dan layak, bukan tidak mungkin alat bantu bagi penyandang disabilitas pendengaran ini akan menjadi produk nyata yang dapat dimanfaatkan, baik di Trenggalek maupun di daerah-daerah asal rekan-rekan Salsa.
Salsa sendiri mengaku pertemuan ini menjadi bagian dari persiapan menuju ajang di Thailand. "Harapannya kami bisa membantu mengembangkan alat ini. Masih prototype, dan apabila sudah dikembangkan bisa dibantu coba baik di daerah teman-teman saya maupun di Trenggalek," tandasnya dengan optimisme.
Bagi Mas Ipin, capaian Salsa bukan sekadar kebanggaan sesaat. "Saya senang Mbak Salsa punya kesempatan untuk mengaktualisasikan ilmunya sampai ke tingkat internasional," ujarnya. "Pengalaman-pengalaman beliau, riset-riset yang tertuang baik berupa tesis ataupun data-data pendukung dalam esai, pasti nanti bermanfaat untuk menjadi masukan buat kita bagaimana mempercepat terciptanya pendidikan inklusi di Kabupaten Trenggalek."
Satu langkah kecil Salsa dan timnya di kancah internasional, sejatinya menjadi bagian dari gerakan besar untuk mewujudkan pendidikan yang tak meninggalkan siapa pun. Sebuah mimpi inklusi yang perlahan-lahan mulai menemukan jalannya dari ruang kelas, melalui lembaran esai, hingga ke panggung dunia. (Wwn)
