Strategi Banyuwangi Runtuhkan Ego Sektoral: Jadikan Pariwisata sebagai Lokomotif Pembangunan Daerah - METRO JATIM

Breaking

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Senin, 13 Juli 2026

Strategi Banyuwangi Runtuhkan Ego Sektoral: Jadikan Pariwisata sebagai Lokomotif Pembangunan Daerah


Banyuwangi, Metro Jatim; 

Kabupaten Banyuwangi kini bukan lagi sekadar wilayah perlintasan bagi wisatawan yang hendak menuju Bali. Kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini telah menjelma menjadi destinasi utama yang memikat. Transformasi besar ini tidak terjadi dalam semalam, melainkan melalui konsistensi kebijakan sejak tahun 2011 di bawah kepemimpinan Bupati Abdullah Azwar Anas (periode 2010–2021).


​Dalam acara Media Gathering yang diselenggarakan oleh Pertamina di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Jumat (10/7/2026), Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuwangi, Dr. Suyanto Waspo Tondo Wicaksono, M.Si., mengenang masa lalu daerahnya.


​"Ibaratnya, para pelancong dulu hanya mampir 'kencing' di Banyuwangi," ujar pria yang akrab disapa Yayan tersebut.


Meruntuhkan Ego Sektoral

Perjalanan Banyuwangi menuju daerah wisata unggulan sempat diwarnai tantangan berat, terutama tingginya ego sektoral antarorganisasi perangkat daerah (OPD) serta belum adanya satu arah pembangunan yang terintegrasi.

​Untuk mengatasinya, Pemkab Banyuwangi mengambil langkah berani dengan menjadikan sektor pariwisata sebagai "payung besar" atau interkoneksi bagi seluruh program pembangunan daerah. Kebijakan ini berhasil menyatukan gerak semua instansi.

​Yayan mengilustrasikan filosofi kerja ini dengan kalimat yang unik. "Ibaratnya, OPD di Banyuwangi hanya satu, yaitu Dinas Pariwisata. Artinya, seluruh dinas mengarahkan program dan kegiatannya untuk mendukung pembangunan pariwisata," tuturnya.

​Meski begitu, bukan berarti instansi lain kehilangan fungsi utamanya. Dinas Pekerjaan Umum tetap fokus membangun jalan, namun diprioritaskan untuk akses destinasi. Dinas Lingkungan Hidup berfokus pada kebersihan kota, sementara dinas lainnya menopang dari sektor UMKM, kebudayaan, pertanian, hingga transportasi. Sinergi ini membuat pariwisata menjadi penggerak ekonomi yang holistik.


Fokus pada Ekowisata dan Wisata Keluarga

Dalam hal konsep, Banyuwangi secara konsisten memilih jalur ekowisata (ecotourism) dan wisata keluarga (family tourism). Melalui konsep ini, keaslian alam dan kekayaan budaya lokal dipertahankan sebagai daya tarik utama tanpa harus merusaknya dengan bangunan-bangunan megah yang mengubah karakter asli daerah.

​Bentang alam Banyuwangi yang kaya—mulai dari pantai, gunung, hingga taman nasional—dikombinasikan secara apik dengan tradisi masyarakat setempat.


Ratusan Acara Lewat Banyuwangi Attraction

Guna menjaga minat kunjungan sepanjang tahun, Banyuwangi menyusun kalender festival yang padat bertajuk Banyuwangi Attraction. Agenda ini menyajikan ratusan kegiatan dari Januari hingga Desember, mulai dari festival budaya berskala besar seperti Banyuwangi Ethno Carnival dan Gandrung Sewu, hingga kegiatan berbasis komunitas, olahraga, kuliner, dan tradisi desa.

​“Dalam satu tahun itu hanya ada 52 minggu, tapi di Banyuwangi ada ratusan event yang digelar,” canda Yayan.

​Strategi ini terbukti efektif. Kunjungan wisatawan tidak lagi menumpuk di musim-musim tertentu saja (high season), melainkan tersebar sepanjang tahun.


Pelajaran Penting bagi Daerah Lain

Di akhir paparannya, Yayan menekankan bahwa keberhasilan pariwisata tidak bisa diraih hanya dengan memperbanyak festival di permukaan. Kunci utamanya terletak pada komitmen kepemimpinan, konsolidasi kebijakan, pembangunan infrastruktur yang terarah, serta keterlibatan aktif masyarakat. Tanpa payung pembangunan yang jelas, festival-festival daerah hanya akan menjadi acara seremonial tahunan yang usai begitu panggung dibongkar. (Herman)

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini