Trenggalek, Metro Jatim;
Debur ombak Pantai Prigi seolah ikut berirama dengan langkah ribuan warga yang memadati Kecamatan Watulimo, Trenggalek, Jawa Timur. Kamis 23/04/2026 Bukan tanpa sebab, mereka datang berbondong-bondong untuk menyaksikan upacara adat tahunan yang sarat makna Labuh Laut Larung Sembonyo.
Dua pusat perhatian langsung menyedot mata tumpeng manten dan tumpeng raksasa atau tumpeng agung. Keduanya diarak sejauh tiga kilometer menuju Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi.
Sepanjang perjalanan, warga tak henti-hentinya memadati pinggir jalan. Bukan hanya karena penasaran dengan gunungan nasi dan lauk yang megah itu, melainkan juga karena kemeriahan budaya yang menyertainya. Ada atraksi jaranan, tarian adat Jawa, hingga berbagai kesenian tradisional lainnya yang membuat iring-iringan terasa seperti karnaval penuh warna.
Sesampainya di tepi Teluk Prigi, puncak acara pun dimulai. Tumpeng manten dan tumpeng agung ditarik ke tengah laut, kemudian dilarung dan dipurak dilepaskan sebagai simbol sedekah bumi dan laut.
"Labuh laut ini adalah ungkapan syukur seluruh nelayan Pantai Prigi atas karunia Allah tahun lalu. Sekaligus doa agar tahun depan hasil tangkapan ikan lebih melimpah," ujar Boniman, salah satu nelayan setempat, dengan mata berbinar.
Menurut Boniman, tradisi yang sudah mengakar ini tak pernah surut meski tanpa bantuan dana dari pemerintah desa atau kecamatan. Berkat semangat gotong royong masyarakat nelayan Teluk Prigi, labuh laut tetap berjalan setiap tahun.
Ia pun berharap upacara adat yang menjadi kekayaan budaya Trenggalek ini terus dilestarikan, bahkan dikembangkan. Tak hanya ritual utama, panitia juga menggandeng seniman untuk menggelar wayangan, tayub, hingga tiban.
Boniman kemudian membuka lapisan filosofi yang lebih dalam. Menurutnya, Sembonyo bukan hanya wujud rasa syukur atas tangkapan ikan, tetapi juga doa keselamatan bagi para nelayan saat melaut.
Namun, yang paling menarik adalah legenda asmara di balik tradisi ini.
Konon, kisah ini bermula dari cinta antara Raden Tumenggung Yudho Negoro dan Putri Gambar Inten. Pernikahan mereka bukan hanya menyatukan dua hati, tetapi juga menjadi simbol pembuka kawasan pesisir selatan, termasuk Teluk Prigi.
Pernikahan bersejarah itu jatuh pada hari Senin Kliwon dalam penanggalan Jawa. Sang putri mengajukan syarat: Raden Yudho Negoro harus menggelar ritual labuh laut setiap tahun. Tak cukup di situ, sang putri juga meminta agar tradisi tersebut diramaikan dengan jaranan dan langgam tayub.
Dua elemen budaya itu pun melebur menjadi satu dalam prosesi larung Sembonyo hingga kini.
Uniknya, tradisi ini tidak berlangsung sehari. Labuh laut Larung Sembonyo dilaksanakan selama 40 hari, dengan puncak perayaan pada hari ke-40. Momen puncak yang dipusatkan di Teluk Prigi itu menjadi ritual sakral bagi masyarakat pesisir untuk menyampaikan syukur dan doa.
Warga setempat percaya bahwa ritual ini membawa berkah, menjaga keseimbangan alam, dan mengingatkan pentingnya harmoni antara manusia dan laut.
Lebih dari sekadar warisan budaya, Larung Sembonyo adalah identitas. Ia mengikat masyarakat pesisir selatan Trenggalek dengan laut, leluhur, dan kisah cinta yang tetap hidup dari generasi ke generasi. (Wwn)

