Trenggalek Gaet Pinjaman Rp70 Miliar dari PT SMI Jalan Tetap Dibangun, Tapi Pariwisata Jadi Ujung Tombak - METRO JATIM

Breaking

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Rabu, 22 April 2026

Trenggalek Gaet Pinjaman Rp70 Miliar dari PT SMI Jalan Tetap Dibangun, Tapi Pariwisata Jadi Ujung Tombak


Trenggalek, Metro Jatim; 

Pemerintah Kabupaten Trenggalek resmi meneken pinjaman daerah senilai Rp70 miliar bersama PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI). Bukan sekadar utang biasa, skema ini dirancang sebagai "mesin cetak uang" baru bagi daerah, dengan sektor pariwisata sebagai primadona.


Penandatanganan dilakukan oleh Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, bersama Direktur Pembiayaan Publik dan Pengembangan Proyek PT SMI, Faaris Prasnawa, di Pendopo Manggala Praja Nugraha, Selasa (21/4/2026).


Hitungan Kasar: Jalan Rp41 M, Pariwisata dan Kota Rp29 M


Dalam paparannya, Bupati yang akrab disapa Mas Ipin itu merinci alokasi dana tersebut. Sebanyak Rp41 miliar akan digelontorkan untuk infrastruktur jalan. Sementara Rp29 miliar sisanya dikhususkan untuk pengembangan pariwisata dan penataan kawasan perkotaan.


Namun, yang menarik adalah filosofi di balik angka tersebut. Mas Ipin mengakui bahwa pembangunan jalan memang vital, tetapi ia tidak mau jebak dalam "utang produktif semu."


"Kalau semuanya untuk jalan, nanti yang nyicil siapa?" tanya Arifin di hadapan awak media.


Menurutnya, jalan lebih bersifat penunjang sosial-ekonomi. Karena itu, Trenggalek butuh proyek yang benar-benar menghasilkan pendapatan asli daerah (PAD) untuk membayar cicilan.


Alih-alih terus memompa destinasi jenuh seperti Pantai Pasir Putih, Trenggalek memilih strategi ekspansif. Dana pariwisata akan difokuskan untuk membangkitkan destinasi yang selama ini tertidur.


Tiga lokasi utama menjadi sasaran


1. Pantai Prigi – Digenjot sebagai kawasan wisata bahari terpadu.


2. Gua Lowo – Potensi geowisata yang akan dikemas lebih modern.


3. Kawasan Dilem Wilis – Ini yang paling istimewa. Kawasan ini tidak hanya mengandalkan alam dan sejarah peninggalan Belanda, tetapi juga akan disulap menjadi agro-tourism dengan kopi sebagai komoditas utama.


Uniknya, proyek ini menyentuh ekosistem ekonomi akar rumput. Di Dilem Wilis, Pemkab berencana mengaktifkan kembali mesin pengolahan kopi peninggalan Belanda. Ini akan menjadi live museum sekaligus unit produksi.


Selain itu, pengadaan mesin sterilisasi susu juga masuk dalam paket revitalisasi kota. Langkah ini diharapkan bisa memperkuat peternak lokal sekaligus mendukung program makanan bergizi gratis.


"Harapannya ini jadi ekosistem ekonomi baru," tegas Arifin


Mas Ipin tidak asal bicara. Ia menarik pelajaran dari pengalaman sebelumnya. Dulu, Trenggalek membangun rumah sakit via skema pembiayaan serupa. Hasilnya? Pendapatan daerah dari sektor kesehatan melonjak drastis dari Rp20 miliar menjadi hampir Rp140 miliar.


"Itu yang kita sebut pembiayaan bisa menjadi game changer," kenangnya.


Awalnya, Pemkab sempat memproyeksikan pinjaman hingga Rp150 miliar. Namun, setelah mempertimbangkan rasio kemampuan keuangan daerah (debt to service ratio), angka Rp70 miliar dinilai paling aman dan maksimal.


Direktur PT SMI, Faaris Prasnawa, memastikan dukungan penuh atas langkah inovatif ini. Skema pinjamannya bersifat konsesional, artinya bunga tetap di bawah suku bunga pasar meski sedikit naik dibanding proyek sebelumnya.


"Pencairan bertahap sesuai progres proyek untuk memastikan akuntabilitas," ujar Faaris.


Menariknya, PT SMI juga membuka peluang tambahan melalui CSR. Saat ini, mereka sedang mengkaji peningkatan pengelolaan sampah di Trenggalek. Artinya, kolaborasi ini bisa berlanjut ke sektor lingkungan hidup.


Trenggalek tampaknya serius meninggalkan pola pembangunan konvensional. Dengan pinjaman ini, mereka berjudi pada pariwisata dan ekonomi lokal sebuah taruhan yang jika menang, akan mengubah peta ekonomi daerah secara permanen. (Wwn)

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini