Trenggalek, Metro Jatim;
Ada yang berbeda akhir-akhir ini di kawasan Pendopo Trenggalek. Bangunan bersejarah itu tak lagi hanya tampil sebagai ikon kota yang megah dan kaku. Kini, pendopo perlahan berubah wajah. Ia disulap menjadi "rumah rakyat" yang hangat—tempat warga tak hanya mencari keindahan, tapi juga solusi atas persoalan hidup.
Sentuhan baru ini datang dari Bupati Mochamad Nur Arifin. Dengan perhatian khusus pada kaum hawa, pria yang akrab disapa Mas Bupati itu menyiapkan sebuah ruang istimewa: Rumah Perempuan.
Jangan bayangkan ruangan biasa. Ini adalah tempat aman. Sebuah benteng bagi siapa pun yang merasa terpinggirkan, ketakutan, atau menjadi korban kekerasan. Cukup hubungi nomor 0822 333 43800, maka pendampingan akan segera datang.
"Kalau ada penyintas atau yang merasa menjadi korban, jangan ragu menghubungi nomor itu," ujar Mas Bupati pada Sabtu (18/4/2026).
Letaknya pun strategis. Di sisi utara pendopo, Rumah Perempuan berdiri sigap. Sementara di bagian selatan, ada Posko Gertak yang tak kalah penting. Keduanya terintegrasi dalam satu kawasan, saling menyambung seperti urat nadi.
Posko Gertak ini ibarat pintu gerbang tunggal bagi warga miskin yang selama ini bingung mengakses layanan sosial. Urusan jaminan kesehatan, pendidikan, hingga bantuan kemiskinan semua bisa diurus di sini. Tak ada lagi cerita warga terpental karena birokrasi yang berbelit.
"Warga miskin yang selama ini belum tersentuh layanan, bisa dilayani di situ," tegas Mas Bupati.
Tak berhenti di situ, Pemkab Trenggalek juga menggandeng Baznas untuk hadir di lokasi yang sama. Semua dipusatkan. Satu tekad: jangan sampai ada satu pun warga Trenggalek yang kehilangan jalan keluar dari kesulitannya.
Lalu, untuk membuktikan bahwa ini bukan sekadar wacana, Arifin membagikan sebuah kishen yang menyentuh. Ada seorang perempuan yang selama 12 tahun terperangkap dalam kegelapan rumah tangga. Kekerasan demi kekerasan ia alami dalam diam. Hingga suatu hari, ia berani melangkah ke Rumah Perempuan.
Ia datang, melapor, lalu mendapat pendampingan penuh. Perlahan, hidupnya berubah.
"Alhamdulillah, sekarang beliau merasa hidupnya lebih bercahaya. Ada secercah sinar," kenang Arifin dengan mata berkaca-kaca.
Melalui layanan terpadu ini, Trenggalek ingin membuktikan bahwa perlindungan terhadap perempuan bukanlah sekadar slogan di Hari Kartini. Bukan seremonial belaka. Ini adalah aksi nyata yang hadir setiap hari, untuk setiap warga yang membutuhkan.
Harapannya sederhana namun dalam: tak ada lagi warga Trenggalek yang merasa sendiri ketika masalah datang. Karena di kawasan pendopo itu, rumah mereka telah terbuka lebar.(Wwn)
