Harga Plastik Melambung, UMKM Trenggalek Mulai Beralih ke Kertas - METRO JATIM

Breaking

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Kamis, 14 Mei 2026

Harga Plastik Melambung, UMKM Trenggalek Mulai Beralih ke Kertas


Trenggalek, Metro Jatim; 

Dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) beberapa waktu lalu masih terasa hingga sekarang. Bukan hanya angkutan umum yang terkena imbasnya, para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Trenggalek pun mulai merasakan getaran tak langsung dari kebijakan tersebut, terutama mereka yang sehari-hari bergantung pada plastik sebagai "baju" pelindung produk dagangannya.


Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskomidag) Trenggalek, Saniran, mengungkapkan bahwa harga plastik di pasaran saat ini belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Justru, barang kebutuhan pokok para pedagang ini masih bertahan di level yang cukup memberatkan.


"Kami berbincang dengan para pedagang, harganya masih tetap seperti awal kenaikan kemarin. Belum ada perbaikan, masih di kisaran naik 40 hingga 50 persen dibandingkan sebelum BBM naik," jelas Saniran, Rabu (13/5/2026).


Ia menjelaskan, lonjakan ini merupakan efek domino dari naiknya harga bahan baku plastik pasca penyesuaian harga BBM. Pihak distributor hingga produsen pun hingga kini belum memberikan sinyal akan adanya penurunan harga.


Kabar baiknya, para pelaku UMKM di Trenggalek tidak tinggal diam. Saniran menyebut mereka sudah mulai beradaptasi dengan situasi. Beberapa langkah kreatif mulai dijalankan agar usaha tak tersendat.


"UMKM yang menggunakan kemasan plastik tentu terdampak. Tapi mereka mulai menyesuaikan diri, baik dari sisi volume produk maupun sistem penjualannya," terang Saniran.


Bahkan, sebagian dari mereka sudah mulai mencari angin segar dengan beralih ke kemasan berbahan kertas. Sebuah pergerakan kecil yang menarik: kenaikan harga plastik justru memicu akselerasi gaya hidup ramah lingkungan secara tidak langsung. "Beberapa pelaku usaha mulai beralih ke kemasan kertas sebagai alternatif," tambahnya.


Meski begitu, Saniran menilai dampak kenaikan ini belum terlalu signifikan secara total. Sebab, tidak semua UMKM di Trenggalek menggunakan plastik secara masif. Artinya, rasa sakit akibat kenaikan ini masih bersifat lokal, belum menyerang semua sektor.


Di sisi lain, Diskomidag Trenggalek juga tengah memantau pergerakan harga bahan pokok yang mulai gelisah menjelang Hari Raya Idul Adha 2026. Komoditas yang paling terlihat fluktuatif adalah cabai.


Harga cabai merah besar dan cabai rawit merah sempat melesat signifikan, namun tak bertahan lama. "Kemarin cabai merah sempat naik sampai Rp70 ribu, hari ini sudah turun lagi menjadi Rp64 ribu. Jadi masih naik turun, belum stabil seperti biasanya yang cenderung terus merangkak naik," papar Saniran.


Ia menduga fluktuasi ini lebih dipengaruhi oleh stok yang tidak merata dan jadwal panen petani yang belum serempak. Kondisi pasar, kata Saniran, masih dalam masa pencarian keseimbangan. (Wwn)

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini