Trenggalek, Metro Jatim;
Dampak musim kemarau mulai terasa nyata di Kabupaten Trenggalek. Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), setidaknya lima kecamatan dan sembilan desa kini mengalami kekurangan pasokan air bersih. Sebagai langkah penanggulangan, pendistribusian bantuan air bersih segera digulirkan guna memenuhi kebutuhan dasar warga.
Kepala BPBD Trenggalek yang juga menjabat Pj Sekretaris Daerah, Stefanus Triadi Atmono, menjelaskan bahwa jumlah wilayah terdampak masih bisa berubah mengikuti perkembangan kondisi di lapangan. Sebagian wilayah bahkan baru saja melaporkan turunnya hujan dalam beberapa hari terakhir.
“Saat ini tercatat ada 5 kecamatan dan 9 desa terdampak, angka ini bisa saja bertambah atau berkurang. Meski ada beberapa tempat yang sudah diguyur hujan, kami tetap menyalurkan bantuan ke desa-desa yang benar-benar membutuhkan saat ini,” ujar Stefanus.
Dalam upaya penanganan tersebut, BPBD mendapatkan dukungan pasokan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui Balai Besar Wilayah Sungai Brantas. Dalam kurun waktu dua hari berturut-turut hari Minggu hingga Senin telah disalurkan sekitar 24.000 liter air bersih ke wilayah yang terdampak.
Dari seluruh wilayah yang terdampak, Kecamatan Panggul menjadi daerah yang paling merasakan dampak kekeringan, di mana tujuh desa di dalamnya kini menjadi prioritas utama penanganan pemerintah daerah.
“Kondisi paling parah terjadi di Kecamatan Panggul dengan 7 desa yang mengalami kesulitan air. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan air bersih untuk keperluan rumah tangga menjadi fokus utama kami saat ini,” tegasnya.
Selain menyalurkan bantuan air, pemerintah juga mengimbau masyarakat desa yang telah memiliki fasilitas Penyediaan Air Minum Berbasis Masyarakat untuk merawat sarana tersebut dengan baik, termasuk melakukan perawatan rutin pada pompa dan peralatan pendukung lainnya.
Stefanus juga mengingatkan agar warga tidak terlena dengan turunnya hujan sesaat. Menurut prediksi BMKG, curah hujan yang terjadi belakangan ini hanyalah dampak sisa angin barat, sementara puncak musim kemarau baru akan terjadi pada bulan Agustus hingga September mendatang.
“Jangan mengira musim kemarau sudah usai hanya karena sempat turun hujan. Data dari BMKG menunjukkan puncak kekeringan masih ada di depan mata, yaitu pada Agustus dan September. Kami mengimbau seluruh pihak untuk tetap bersiap dan waspada,” pungkasnya.(Wwn)
