Trenggalek, Metro Jatim;
Setiap hari, warga Kabupaten Trenggalek membutuhkan sekitar 5.000 liter minyak goreng untuk memasak. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan denyut dapur ribuan rumah tangga yang bergantung pada komoditas strategis tersebut.
Namun, menariknya, kebutuhan sebesar itu tidak sepenuhnya ditopang oleh program MinyaKita yang selama ini dikenal sebagai minyak goreng bersubsidi. Kepala Dinas Koperasi, Industri dan Perdagangan (Komindag) Kabupaten Trenggalek, Saniran, mengungkapkan bahwa konsumsi harian masyarakat terbagi ke dalam beberapa segmen.
"Kebutuhan per hari secara detail sekitar 5.000 liter. Tapi itu tidak serta-merta hanya MinyaKita. Konsumen minyak goreng kan banyak ada yang memilih MinyaKita, ada yang memilih minyak premium, dan merek-merek lainnya. Jadi kebutuhan sudah bisa terpenuhi dari berbagai sumber," ujar Saniran, Senin (20/7/2026).
Menurutnya, pilihan konsumen ternyata juga ditentukan oleh daya beli. Masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke atas cenderung memilih minyak goreng non-subsidi yang dianggap memiliki kualitas lebih baik, meskipun dengan harga yang berbeda. Fenomena ini menunjukkan bahwa pasar minyak goreng di Trenggalek tidak tunggal, melainkan bertingkat sesuai dengan kantong dan preferensi masing-masing.
Saniran menjelaskan, MinyaKita bukanlah minyak goreng biasa. Sebagai produk bersubsidi, tata niaganya diatur secara khusus oleh pemerintah. Mulai dari harga jual eceran tertinggi (HET), siapa saja yang berhak menjual, hingga batas keuntungan pedagang semua telah ditentukan.
"MinyaKita ini subsidi. Makanya ada ketentuan khusus: harus dijual sesuai HET, penjualnya ditentukan, pagu penjualannya diatur, dan keuntungan pedagang juga sudah ditetapkan sekitar Rp1.200 per liter. Karena mereka membeli dari Bulog di bawah harga pasar," jelasnya.
Ketentuan tersebut bertujuan menjaga distribusi tetap terkendali dan tepat sasaran. Dengan margin keuntungan yang terbatas, para pedagang pun tidak bisa sembarangan menaikkan harga saat permintaan melonjak.
Komindag mencatat, penyaluran MinyaKita dari Bulog ke pasar-pasar di Trenggalek dilakukan secara rutin setiap pekan. Namun, pola distribusi ini tidak kaku. Jika terjadi kelangkaan atau lonjakan kebutuhan di lapangan, tambahan pasokan bisa segera dialokasikan.
"Standarnya tiap minggu. Tetapi ketika ada kelangkaan, kami akan berkomunikasi dengan Bulog dan Bulog akan merespons tentu dengan memastikan distribusinya tepat sasaran," kata Saniran.
Saat ini, jangkauan distribusi MinyaKita tidak hanya terbatas di Pasar Basah Trenggalek. Bulog juga mengirimkan stok ke Pasar Kamulan, Pasar Subuh, dan sejumlah pasar lainnya. Selain MinyaKita, beras SPHP juga turut didistribusikan dalam gelombang yang sama.
Dengan sistem yang mengombinasikan rutinitas dan fleksibilitas, pemerintah berharap kebutuhan pokok masyarakat tetap aman tanpa gejolak harga yang berarti, dan tanpa mengabaikan hak konsumen untuk memilih.(Wwn)
