Usung Tema “Hambeging Bumi”, 6 Pusaka & Gamelan Nyai Sekanti Dijamas Sambut HUT‑832 Trenggalek - METRO JATIM

Breaking

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Minggu, 30 Agustus 2026

Usung Tema “Hambeging Bumi”, 6 Pusaka & Gamelan Nyai Sekanti Dijamas Sambut HUT‑832 Trenggalek


Trenggalek, Metro Jatim; 

Menjelang peringatan istimewa Hari Jadi Kabupaten Trenggalek yang ke‑832, tradisi luhur jamasan pusaka kembali digelar penuh khidmat Sabtu (29/8/2026) dengan mengusung tema besar “Hambeging Bumi”. Upacara pembersihan dan penghormatan kali ini mencakup keseluruhan benda‑benda keramat milik daerah enam pusaka sekaligus satu set gamelan tua bernilai tinggi.

 

Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin atau yang akrab disapa Mas Ipin mengungkapkan rasa syukur karena seluruh pusaka bisa dirawat dan dipersembahkan secara lengkap. “Dalam pandangan budaya, setiap benda ini punya tugas berbeda: ada yang berfungsi menjaga keamanan, ada pula yang mengayomi dari sisi spiritual seperti Kyai Korowelang dan Biring,” jelasnya.

 

Keenam pusaka yang dijamas:


1. Songsong Ayom Sih (hadiah dari Keraton Yogyakarta)

2. Tumbak Kyai Wignyo Murti (hadiah dari Keraton Yogyakarta)

3. Songsong Tunggul Nogo

4. Songsong Tunggul Projo

5. Tumbak Kyai Korowelang

6. Lambang Jwalita Praja Karana

 


Tak hanya senjata dan lambang kenegaraan, Gamelan Nyai Sekanti juga ikut dibersihkan dan dipersiapkan. “Beliau akan memimpin irama di setiap upacara—termasuk melantunkan gendang dan langgam khas saat prosesi Mahalul Qiyam besok,” tambah Mas Ipin. Karena bertepatan dengan masuknya bulan Sasi Mulud atau peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, acara ini juga diharapkan membawa keberkahan serta syafaat bagi seluruh warga yang ikut merayakan.

 

Semua perayaan dibuka bebas untuk masyarakat luas tanpa terkecuali. “Silakan datang, duduklah berdampingan dengan para sesepuh, nikmati hidangan dan tontonan yang sudah kami sediakan merayalah bersama‑sama,” ajak Bupati dengan hangat.

 

Rangkaian hiburan sarat makna pun sudah disiapkan: dimulai atraksi sakral Tiban, lomba panjat pinang, hingga puncak kemeriahan berupa pertunjukan wayang kulit. Khusus tradisi Tiban, Mas Ipin menerangkan doa intinya: “Para tetua dan petani berdoa semoga tanah tetap subur, air senantiasa tersedia cukup, dan hasil panen kita semua berlimpah ruah.”

 

Semoga warisan leluhur ini terus menjaga Trenggalek tetap makmur, damai, dan tercinta selamanya. (WWN)


Post Top Ad

Pasang Iklan Disini