Peringatan Kesaktian Pancasila di Monumen Kresek Jadi Ruang Refleksi Kebangsaan. - METRO JATIM

Breaking

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Jumat, 02 Oktober 2026

Peringatan Kesaktian Pancasila di Monumen Kresek Jadi Ruang Refleksi Kebangsaan.



Madiun, Metro Jatim; 

Pemerintah Kabupaten Madiun menggelar upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila dengan khidmat dikomplek bersejarah Monumen Kresek, Desa Kresek Kecamatan Wungu Kabupaten Madiun, Kamis (1/10/2026). 


Dalam kegiatan gelar, Bupati Madiun, Hari Wuryanto, bertindak sebagai Inspektur Upacara dan AKP Satriyo Teguh Pranowo Sebagai Komandan Upacara yang sehari-hari menjabat sebagai Kapolsek Gemarang. 


Gelar Upacara, dihadiri oleh jajaran pimpinan daerah baik sipil maupun militer dan elemen masyarakat. Nampak di deretan undangan paling depan, Wakil Bupati Madiun, Purnomo Hadi, Ketua DPRD Kabupate Madiun, Feri Sudarsono, Sekretaris Daerah Kabupaten Madiun, Sigit Budiarto, pejabat Forkopimda, pimpinan OPD, Organisasi Purnawirawan Pepabri dan LVRI hingga Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Madiun juga turut hadir untuk memberikan penghormatan. 


Peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang digelar di Monumen Kresek ini tidak sekedar menjadi rutinitas dan agenda seremonial tahunan belaka. Momentum bersejarah ini dimaknai sebagai ruang refleksi mendalam bagi seluruh lapisan masyarakat untuk kembali memperkokoh semangat persatuan dan gotongroyong ditengah dinamika zaman. 


Monumen Kresek, yang menjadi saksi bisu rekam jejak sejarah perjuangan bangsa, menyimpan nilai-nilai yang penting yang terus diupayakan agar tidak pudar ditelan waktu. Keberadaan situs bersejarah ini diharapkan mampu mengedukasi serta menanamkan nilai-nilai pengorbanan, perjuangan, rasa cinta tanah air kepada generasi muda. Hal ini krusial agar sejarah tidak berhenti hanya sebagai catatan masa lalu, melainkan menjadi pijakan moral bagi masa depan bangsa. 


Melalui refleksi di-Monumen Kresek, Peringatan Hari Kesaktian Pancasila menegaskan kembali bahwa semangat gotong royong dan Pancasila tetap menjadi benteng utama dalam menjaga keutuhan negara Kesatuan Republik Indonesia. Perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah belah, melainkan sebuah kekuatan yang harus terus dirawat melalui nilai-nilai toleransi, persatuan dan kebersamaan. 


Sementara itu, Bupati Madiun, Hari Wuryanto, seuasai pelaksanaan gelar Upacara Hari Kesaktian Pancasila menyampaikan, bahwa stigma negatif masa lalu sempat mempengaruhi rasa percaya diri warga Madiun. Dahulu, para pemuda daerah seringkali merasa minder ketika ingin mendaftar ke Instansi seperti TNI atau Polri karena kekhawatiran akan pemeriksaan latar belakang (Screening) terkait sejarah 1948.


Untuk mengikis stigma salah arah tersebut, Pemerintah Kabupaten Madiun gencar memberikan pemahaman wawasan kebangsaan dan kearifan lokal (local wisdom) disekolah-sekolah. Generasi muda edukasi bahwa pimpinan pemberontakan, seperti Muso dan Amir Syarifudin bukanlah warga asli Madiun. 


"Kami ingin meluruskan bahwa Madiun itu bukan pemberontak, melainkan korban dari keganasan PKI saat itu. Tokoh-tokoh Kiai dan Ulama kita gugur dibunuh karena gigih melawan kehadiran dan paham mereka. Kami berani melawan karena kami tidak sudi menerima paham komunis," tegas Bupati Madiun. 


Masih kata Bupati,  "Muso bukan orang Madiun, Amir Syarifuddin juga bukan orang Madiun. Madiun hanya dijadikan sasaran penguasaan strategis. Alhamdulillah, saat ini anak-anak muda kita sudah jauh lebih percaya diri dan siap menjaga Pancasila sebagai Ideologi bangsa," pungkasnya. (Ismantono)

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini