ERA DIGITAL & GLOBALISASI: BUDAYA BERUBAH CEPAT, ETIKA SOSIAL TERANCAM - METRO JATIM

Breaking

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Senin, 12 Januari 2026

ERA DIGITAL & GLOBALISASI: BUDAYA BERUBAH CEPAT, ETIKA SOSIAL TERANCAM

 

Nama : Jaisy Carissa Kusuma 
Jurusan : Ilmu Komunikasi 
Sekolah : Universitas Muhamadiyah Malang

Trenggalek, metrojatim.com;

Gelombang Perubahan yang Tak Terelakkan Perubahan budaya telah menjadi denyut nadi masyarakat modern. Dorongan globalisasi, lompatan teknologi digital, dan intensitas interaksi antarbudaya telah mentransformasi wajah kehidupan sosial dengan kecepatan luar biasa. Transformasi ini tidak sekadar mengubah cara kita berkomunikasi dan bekerja, tetapi lebih mendasar: menggeser sistem nilai, norma, dan etika sosial yang selama berabad-abad menjadi fondasi keteraturan dan keharmonisan hidup bersama.


Globalisasi dan Digitalisasi: Dua Pendorong Utama


Globalisasi membuka kran informasi dan nilai-nilai global secara masif, sering kali bersaing langsung dengan nilai tradisional yang diwariskan turun-temurun. Di saat bersamaan, teknologi digital—melalui media sosial dan ruang virtual—menciptakan pola interaksi baru yang instan, tanpa batas, dan cenderung individual. Kombinasi keduanya melahirkan “individualisme digital” serta bentuk-bentuk etika sosial baru, sekaligus mengikis nilai kolektivitas dan mengaburkan standar kesopanan klasik.


Dampak Pandemi Katalisator Perubahan Sosial


Pandemi Covid-19 berperan sebagai katalisator yang mempercepat semua proses ini. Kebijakan pembatasan sosial memaksa masyarakat beradaptasi cepat dengan interaksi virtual, memperdalam ketergantungan pada teknologi, dan mengubah tatanan hubungan sosial secara drastis. Dalam perspektif sosiologi, masyarakat melalui fase penyesuaian (adaptation), pencapaian tujuan baru (goal attainment), integrasi aturan, dan pemeliharaan pola baru (latency) menuju sebuah “Normal Baru” yang mungkin permanen.


Interaksi Digital Ruang Baru, Nilai Baru


Ruang digital telah menjadi arena utama pertemuan antarbudaya. Menurut lensa antropologi, terjadi “difusi budaya” yang sangat cepat, di mana budaya global sering dipandang lebih maju daripada lokal. Media sosial menciptakan gaya interaksi bebas dan instan, yang seringkali tidak terkendali oleh norma tradisional. Akibatnya, norma sosial direkonstruksi: nilai-nilai komunal dan penghargaan pada tradisi terdesak oleh pola pikir yang lebih individualistis dan global.


Krisis Identitas Generasi Muda di Persimpangan


Imbas paling memprihatinkan adalah melemahnya identitas budaya lokal, khususnya di kalangan generasi muda. Akses tanpa batas ke budaya pop global membuat banyak anak muda menganggap tradisi lokal kurang menarik dan relevan. Penggunaan bahasa daerah, praktik tradisi, dan nilai-nilai seperti gotong royong semakin berkurang. Jika tidak ada upaya pelestarian serius, bangsa ini menghadapi risiko degradasi identitas yang mengkhawatirkan.


Kearifan Lokal Pamali dan Pedoman Moral yang Tergerus


Indonesia kaya akan kearifan lokal seperti “pamali”—larangan adat yang sarat nilai moral. Pamali berfungsi sebagai pedoman tidak tertulis untuk membentuk kesopanan, etika, dan penghargaan pada lingkungan. Meski generasi muda mungkin tidak lagi mempercayai aspek mistisnya, pesan moral di dalamnya tetap relevan. Sayangnya, norma luhur semacam ini kian tergerus oleh pola hidup modern yang pragmatis.


Tantangan Etika Sosial di Ruang Maya dan Nyata


Perubahan budaya membawa tantangan etika sosial yang nyata: standar kesopanan bergeser, nilai kebersamaan melemah, dan batas antara ruang privat-publik kian kabur. Simbol-simbol budaya seperti pakaian adat atau tarian, yang dahulu berfungsi sebagai perekat sosial dan penjaga nilai luhur, kini sering sekadar menjadi atraksi atau konten di media sosial, kehilangan makna filosofis mendalamnya.


Generasi Muda ujung Tombak Penyeimbang


Di tengah tantangan ini, generasi muda memegang peran krusial sebagai agent of change dan agent of social control Mereka dituntut tidak hanya mampu beradaptasi dan berinovasi, tetapi juga menjadi penjaga nilai moral bangsa. Penguatan pendidikan karakter berbasis Pancasila dan literasi budaya yang adaptif menjadi kunci agar mereka dapat menyaring pengaruh global secara bijak tanpa kehilangan jati diri.


Kesimpulan Menjaga Keseimbangan di Tengah Transformasi


Perubahan budaya adalah keniscayaan yang membawa serta peluang modernisasi dan inovasi. Namun, ia juga mengancam erosi identitas lokal dan memicu konflik nilai antargenerasi. Kunci menghadapinya terletak pada kemampuan kolektif untuk menciptakan keseimbangan: menguatkan etika sosial dan literasi budaya, melestarikan kearifan lokal, namun tetap terbuka terhadap pembaruan yang positif.


Penutup Kolaborasi untuk Masa Depan Berkelanjutan


Membangun ketahanan budaya dan etika di era digital memerlukan sinergi semua pihak: keluarga, pendidikan, pemerintah, dan masyarakat sipil. Dengan memperkuat pondasi nilai-nilai luhur Pancasila, memanfaatkan teknologi secara cerdas, dan mendorong dialog antargenerasi, masyarakat Indonesia dapat melewati dinamika perubahan ini untuk menciptakan tatanan sosial yang harmonis, beretika, dan berkelanjutan ( wwn)

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini