Bukan Sekadar Peringatan,Di Trenggalek, Perempuan Diajak Menyalakan Api Perjuangan Lewat Literasi dan Karya - METRO JATIM

Breaking

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Minggu, 19 April 2026

Bukan Sekadar Peringatan,Di Trenggalek, Perempuan Diajak Menyalakan Api Perjuangan Lewat Literasi dan Karya


Trenggalek, Metro Jatim; 

Ada yang berbeda di Gedung Bioskop NSC Trenggalek, Sabtu (18/4/2026). Bukan sekadar tayangan film yang menghibur, melainkan gelora semangat yang menyala dari dalam ruangan. Di sanalah TGX Women Summit 2026 digelar, sebuah gerakan yang mengajak perempuan, anak muda, hingga pelaku ekonomi kreatif untuk tak lagi sekadar menjadi penonton atas tantangan zaman.


Acara yang diprakarsai oleh Anggota DPR RI Komisi VII, Novita Hardini, ini menjelma menjadi ruang kolaborasi yang hangat. Bukan forum kaku yang penuh jargon, melainkan lebih seperti taman tempat ide-ide segar tumbuh. Di sini, semangat Kartini tak hanya dikenang lewat lantunan puisi, tetapi dihidupkan melalui workshop inspiratif dan diskusi yang membumi.


"Hingga 2026, Perempuan Masih Menghadapi Barier"


Di hadapan puluhan peserta yang memenuhi kursi-kursi bioskop, Novita berbicara dengan lugas. Baginya, perjuangan perempuan belum usai. Masih banyak lapisan masyarakat yang tanpa sadar membatasi ruang gerak perempuan.


"Kita masih menghadapi banyak barier yang tidak menguntungkan bagi perempuan. Karena itu, saya mengajak seluruh perempuan untuk menyalakan api perjuangan yang positif. Bukan untuk melawan siapa pun, tapi agar mampu menghadapi kehidupan masing-masing," ujarnya dengan mata berbinar.


Api perjuangan itu, menurut Novita, bukan hanya tentang demonstrasi atau tuntutan besar. Tapi dimulai dari ketahanan keluarga, keberanian mengambil ruang kreatif, dan kekuatan untuk menjadi diri sendiri di tengah tekanan sosial.


 Ketika Luka Menjadi Nasihat


Salah satu momen paling emosional dalam puncak acara adalah saat peluncuran buku "Bising dan Hening". Buku ini bukan kumpulan teori, melainkan kumpulan kisah nyata dari para perempuan penyintas yang pernah terjebak dalam bisingnya ujian hidup, lalu menemukan ketenangan dalam keberanian mereka sendiri.


Novita menjelaskan filosofi di balik buku itu dengan cara yang sederhana namun dalam.


“Terkadang dalam hidup, yang mampu menasihati diri kita adalah diri kita sendiri. Ketika pengalaman ditulis, lalu dibaca kembali beberapa tahun kemudian, tulisan itu bisa menjadi nasihat terbaik bagi masa depan kita.”


Lewat buku ini, para perempuan tak hanya berbagi cerita, tetapi juga menunjukkan bahwa luka yang diolah bisa menjadi cahaya untuk orang lain.


Bukti Talenta Daerah Tak Kalah Bersinar


Tak hanya sesi berbagi cerita, mata para peserta juga dimanjakan oleh pemutaran film dokumenter dan animasi karya anak muda Trenggalek. Karya-karya ini bukanlah produk dadakan mereka telah menorehkan prestasi hingga tingkat nasional.


Namun Novita menyayangkan satu hal.masih banyak talenta daerah yang harus merantau jauh agar karyanya dihargai.


“Saya ingin mewadahi talenta-talenta muda Trenggalek agar karya mereka lahir dan tumbuh dari daerah sendiri. Baik melalui buku, film, maupun konten kreatif,” tegasnya.


Karena itu, ke depan ia merencanakan pelatihan kreator konten, workshop, hingga bootcamp dengan menggandeng industri media nasional. Tujuannya satu: membangun ekosistem kreatif yang kuat di kampung halaman, agar anak muda tak perlu lagi merasa 'terpaksa' pergi untuk bisa berkembang.


Berani Bangkit, Berani Membawa Harapan


Di akhir acara, Novita menyampaikan pesan yang menggema di antara dinding bioskop. Pesan yang tak hanya untuk perempuan yang hadir, tapi untuk siapa pun yang mendambakan perubahan.


“Kartini masa kini bukanlah mereka yang sempurna. Kartini masa kini adalah mereka yang berani bangkit, berani berkarya, dan berani membawa harapan bagi lingkungan sekitarnya.”


TGX Women Summit 2026 pun lebih dari sekadar peringatan Hari Kartini yang seremonial. Ia adalah titik awal dari sebuah gerakan nyata,membangun kolaborasi lintas generasi, menguatkan ekonomi berbasis daerah, dan memastikan bahwa perempuan tak lagi diam di tempat. Mereka bergerak. Mereka bersuara. Dan mereka, perlahan tapi pasti, mengubah wajah perubahan sosial dari Trenggalek untuk Indonesia. (Wwn)

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini