Mbah Kawak Joyo Lengkoro, Sosok Pembabat Alas Trenggalek yang Melegenda - METRO JATIM

Breaking

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Minggu, 19 April 2026

Mbah Kawak Joyo Lengkoro, Sosok Pembabat Alas Trenggalek yang Melegenda


Trenggalek, Metro Jatim; 

Siapa sangka, di balik gemerlap pembangunan dan kemajuan pendidikan Kabupaten Trenggalek saat ini, ada satu nama yang tak bisa dilupakan. Dialah Mbah Kawak Joyo Lengkoro—tokoh yang diyakini masyarakat sebagai orang pertama yang membabat hutan Trenggalek, mengubah belantara menjadi tanah yang layak huni.


Tanpa jasanya, mungkin Trenggalek tak akan pernah menjadi kabupaten yang terus berkembang, dari infrastruktur hingga sumber daya manusianya.


Dari "Terange Ing Galih" Menjadi Trenggalek


Cerita lama menyebutkan, Trenggalek dulu dikenal dengan nama Trenggalih atau terange ing galih—yang berarti "terangnya hati". Nama itu konon lahir dari suasana spiritual yang dibawa oleh Mbah Kawak saat pertama kali membuka kawasan ini.


Bukan sekadar membuka lahan, Mbah Kawak juga dikenal sebagai pelopor penyebaran Agama Islam di Trenggalek. Makamnya di lereng Gunung Jaas, tepatnya di tengah pemakaman umum Desa Ngantru, dipercaya sebagai makam muslim tertua di daerah tersebut.


Lebih Dikenal dengan Panggilan "Mbah Galek"


Di kalangan masyarakat, Mbah Kawak Joyo Lengkoro akrab disapa Mbah Galek. Julukan itu muncul karena beliau adalah sesepuh yang pertama kali menjadikan tanah Trenggalek layak dihuni manusia.


Tak heran, hingga kini banyak peziarah yang datang. Sebagian meyakini beliau adalah Abdul Hamid. Sebagian lain menyebutnya Jaya Lengkoro atau Raden Joyo Lengkoro. Ada pula yang meyakini nama-nama lainnya. Satu hal yang pasti: kharisma dan jasanya tak lekang oleh waktu.


Dari Majapahit hingga Trenggalek


Menurut juru kunci generasi keenam Makam Mbah Kawak, Eyang Kawak berasal dari Majapahit Sementara sang istri Eyang Putridiceritakan masih keturunan kerajaan. Mereka datang, berdakwah, dan membuka peradaban baru di tengah hutan yang saat itu masih angker dan sunyi.


Pesan dari Lereng Gunung Jaas


Makam Mbah Kawak tak sekadar menjadi tempat ziarah. Ia berada di kawasan hutan kota Kabupaten Trenggalek, menyatu dengan alam dan pemakaman umum. Karena itu, para peziarah diingatkan untuk selalu menjaga kebersihan dan kesopanan.


"Tutur kata harus selalu dijaga agar tidak menyakiti siapapun," begitu pesan yang turun-temurun dijaga. Ada keyakinan bahwa manusia hidup berdampingan dengan bangsa jin. Bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dihormati agar senantiasa tercipta harmoni.


Refleksi untuk Trenggalek Masa Kini


Kisah Mbah Kawak bukanlah sekadar legenda. Ia adalah pengingat bahwa sebuah kemajuan selalu berawal dari keberanian membuka jalan di tengah hutan, di tengah ketidakpastian. Dan kini, saat Trenggalek terus melesat maju, sudah selayaknya masyarakat tak melupakan siapa yang pertama kali menancapkan tongkat di bumi ini. (Wwn)

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini