Trenggalek, Metro Jatim;
Di balik program Sekolah Rakyat (SR) di Kabupaten Trenggalek, tersimpan sebuah kisah haru tentang perjuangan seorang anak menemukan kembali masa kecilnya. Bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, kehadiran sekolah ini bagaikan oase harapan—termasuk bagi NR (11), siswa kelas 3 SD yang kini mulai merasakan hangatnya kehidupan yang layak.
NR bukanlah anak asli Trenggalek. Ia adalah putra Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, yang terdampar dalam kerasnya kehidupan. Kisahnya bermula ketika sekelompok pekerja asal Desa Wonocoyo, Kecamatan Pogalan, menemukan seorang anak kecil sering bermain sendirian di tengah perkebunan dan hutan. Tanpa pengawasan, tanpa kerabat, ia seperti akar liar yang tumbuh di tempat yang bukan rumahnya.
“Para pekerja mencoba menelusuri asal-usulnya, tapi tidak ditemukan keluarga. Akhirnya anak itu dibawa ke Trenggalek,” ujar Ali Ludin, Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Desa Wonocoyo, Selasa (31/3/2026).
Namun, perjalanan NR tidak langsung mulus. Setibanya di Trenggalek, ia sempat dirawat bergantian oleh para pekerja yang membawanya. Namun, jiwa kecilnya terasa tak nyaman. Ia memilih pergi dan hidup terlantar. Tidur di ladang, di atas jerami, hingga di pinggir jalan menjadi pemandangan yang menyayat hati.
“Dulu dia tidur di mana saja, kadang di depan rumah warga. Hidupnya benar-benar tidak terawat,” kenang Ali.
Perubahan besar datang saat seorang warga bernama Komarudin menemukan NR tertidur lelah di depan rumahnya. Hatinya tergerak. Komarudin pun merawatnya dengan penuh kesabaran hingga akhirnya anak itu merasa aman dan nyaman tinggal bersama keluarganya.
Mendapati kondisi tersebut, Ali bersama Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Trenggalek segera bergerak. Mereka melakukan asesmen serta berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan hak-hak NR terpenuhi. Harapan itu akhirnya menemukan jalannya: NR diterima di Sekolah Rakyat Terintegrasi 50.
Hasilnya kini mulai terlihat. Perlahan tapi pasti, kehidupan NR berubah.
“Alhamdulillah, setelah di Sekolah Rakyat kondisinya jauh lebih baik. Gizinya terpenuhi, badannya lebih bersih, dan yang paling membanggakan, sekarang dia sudah lebih percaya diri saat diajak bicara,” ungkap Ali dengan penuh rasa syukur.
Sekolah Rakyat Terintegrasi 50 tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga rumah kedua yang memberikan rasa aman dan kepastian. Keberadaannya diharapkan mampu menjadi solusi berkelanjutan bagi anak-anak dengan nasib serupa, memastikan mereka tetap mendapatkan hak pendidikan, kasih sayang, dan kehidupan yang lebih layak.(Wwn)
