Lonjakan Sampah di Trenggalek Tembus 4.000 Ton, Ramadan dan Kemasan Praktis Jadi Biang Keroknya - METRO JATIM

Breaking

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Jumat, 17 April 2026

Lonjakan Sampah di Trenggalek Tembus 4.000 Ton, Ramadan dan Kemasan Praktis Jadi Biang Keroknya



Trenggalek, metrojatim.com;

Sampah di Kabupaten Trenggalek seakan tak kenal istirahat. Dalam setahun terakhir, gunungan sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Srabah melonjak drastis. Jika pada 2024 volumenya tercatat 33.469 ton, angka itu kini melesat menjadi 37.427 ton pada 2025. Artinya, ada tambahan hampir 4.000 ton sampah yang harus dikelola hanya dalam waktu 12 bulan.


Fahmi Rizab Syamsudi, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan B3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Trenggalek, mengakui bahwa lonjakan ini bukan tanpa sebab. “Secara umum, semua TPS di Kabupaten Trenggalek mengirimkan sampah lebih banyak ke TPA Srabah,” ujarnya.


Menurut Fahmi, momen Ramadan dan Lebaran menjadi penyumbang utama. Saat bulan puasa tiba, aktivitas masyarakat meningkat drastis—begitu pula dengan volume sampah. “Yang paling utama itu saat puasa Ramadan dan Lebaran, terjadi peningkatan signifikan di TPS-TPS kita,” jelasnya.


Namun, bukan hanya faktor musiman yang bermain. Pola konsumsi masyarakat yang makin serba praktis ikut ambil bagian. Kemasan sekali pakai, terutama plastik, kian mendominasi. Layanan pesan antar makanan seperti GrabFood dan ShopeeFood, meski positif untuk ekonomi, ternyata menyisakan masalah lingkungan.


“Sekarang budaya praktis. Makanan dan minuman banyak dikemas plastik. Itu menambah volume sampah,” papar Fahmi.


Menghadapi situasi ini, DLH Trenggalek tak tinggal diam. Mereka mulai gencar mendorong pembatasan plastik sekali pakai, khususnya yang sulit didaur ulang seperti kantong kresek, styrofoam, dan sedotan plastik.


“Kresek itu nilai ekonominya sangat kecil. Styrofoam tidak laku di industri daur ulang dan berdampak buruk bagi kesehatan. Sedotan plastik juga tidak bisa didaur ulang,” tegas Fahmi.


Setiap tahun, DLH terus mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha untuk beralih ke bahan yang lebih ramah lingkungan. Sebab, jika kebiasaan ini terus berlanjut, bukan hanya beban TPA yang kian berat, tetapi juga masa depan lingkungan Trenggalek. (wwn)

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini