Trenggalek, metrojatim.com;
Kabupaten Trenggalek mencatatkan prestasi membanggakan dengan masuk dalam sembilan daerah di Jawa Timur yang berhasil mencapai angka kemiskinan ekstrem nol persen pada 2024. Namun, di balik capaian itu, masih ada sekitar 72.000 warganya yang hidup dalam keterbatasan.
Fakta mencolok ini disampaikan langsung Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, saat berpidato di hadapan Menteri Sosial Saifullah Yusuf pada 29 Maret 2026. Dalam pertemuan itu, Arifin sapaan akrab bupati—mengakui bahwa ada sisi gelap di balik sederet prestasi yang selama ini menghiasi Trenggalek.
Nol Persen Kemiskinan Ekstrem, Sebuah Kebanggaan
Arifin memulai laporannya dengan nada optimistis. Trenggalek, menurutnya, berhasil mencatatkan sejarah.
"Kalau lihat data 10 kabupaten paling miskin di Jawa Timur, nama Trenggalek tidak ada. Pada 2024, hanya ada 9 kota dan kabupaten di Jatim yang kemiskinan ekstremnya sudah 0 persen, salah satunya Trenggalek," ujarnya.
Keberhasilan ini, kata Arifin, tidak lepas dari gotong royong masyarakat dan kerja keras tim koordinasi penanggulangan kemiskinan daerah.
Namun, Angka Kemiskinan Umum Masih Tinggi
Capaian nol persen kemiskinan ekstrem ternyata belum mampu menggambarkan seluruh realitas di lapangan. Jumlah penduduk miskin di Trenggalek justru masih cukup tinggi dan berada di atas rata-rata nasional.
"Sekarang jumlah penduduk miskin kami di Trenggalek ada 72.000 jiwa. Secara persentase sekitar 10 sekian persen, memang turun, tapi masih di atas rata-rata nasional," jelas Arifin jujur.
Angka itu menjadi catatan penting: meskipun tidak ada lagi warga yang masuk kategori miskin ekstrem, kemiskinan secara umum belum sepenuhnya teratasi.
Strategi 'Tiga Sedekah' Sejak 2016
Sejak 2016, Pemkab Trenggalek tidak tinggal diam. Mereka mengembangkan Sistem Layanan Rujukan Terpadu (SLRT) yang diresmikan langsung oleh Menteri Sosial saat itu, Khofifah Indar Parawansa. Program ini kemudian populer dengan nama Gertak. Uniknya, kantor pertama Gertak berada di rumah dinas wakil bupati.
Dalam praktiknya, SLRT mengusung tiga pendekatan utama yang disebut Arifin sebagai "Tiga Sedekah":
1.Sedekah Informasi: Data kemiskinan bersifat sangat dinamis. "Potretnya bisa berubah per hari, bukan per tiga bulan atau per tahun," kata Arifin. Pemutakhiran data dilakukan terus-menerus agar bantuan tepat sasaran.
2. Sedekah Partisipasi: Dengan anggaran terbatas, pemerintah hanya bisa membeli material bangunan senilai Rp10–15 juta per rumah tidak layak huni (rutilahu). Biaya tukang dan tenaga pembangunan lainnya ditanggung lewat gotong royong warga.
3.Sedekah Rezeki : Untuk warga yang belum terjangkau APBD, Pemkab menggandeng Baznas Trenggalek. Baznas mampu menghimpun dana antara Rp6 miliar hingga rekor tertinggi Rp13 miliar, yang digunakan sebagai jaring pengaman sosial.
Trenggalek menunjukkan bahwa keberhasilan menekan kemiskinan ekstrem bukanlah akhir dari perjuangan. Angka 72.000 warga miskin masih menjadi pekerjaan rumah besar. Namun, dengan strategi berbasis data, partisipasi warga, dan kolaborasi lintas sektor termasuk sedekah rezeki dari BaznasTrenggalek optimistis terus menekan angka itu. (Wwn)
