Merenyutnya Tahu Trenggalek di Tengah Gempuran Harga Kedelai - METRO JATIM

Breaking

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Minggu, 24 Mei 2026

Merenyutnya Tahu Trenggalek di Tengah Gempuran Harga Kedelai

 


Trenggalek, Metro Jatim; 

Renyahnya tahu goreng di pagi hari, lembutnya tahu kuning yang menemani nasi pecel, kini menyisakan cerita yang tak semanis biasanya. Di balik lapisan tahu yang tetap gurih, tersimpan keprihatinan para perajin di Kabupaten Trenggalek yang perlahan "digerogoti" kenaikan harga kedelai. Akibat pelemahan rupiah, satu-satunya cara agar usaha tetap bertahan adalah dengan mengecilkan ukuran atau membuat tahu menjadi "kurus".


Teguh (49), produsen tahu di Desa Corah, Kecamatan Tugu, sudah 23 tahun bergulat dengan kedelai, air, dan cetakan tahu. Namun akhir-akhir ini, tangannya terasa lebih berat saat mencetak tahu. Bukan karena lelah, melainkan karena ia terpaksa mengurangi ukuran tahu hampir setengah sentimeter dari biasanya.


"Dulu satu kali masak pakai 17 kilogram kedelai, sekarang cuma 14 kilogram. Akhirnya ukuran tahu sekarang berkurang," keluhnya saat ditemui, Minggu (24/5/2026).


Meskipun ukuran mengecil, Teguh berusaha mati-matian mempertahankan harga jual. Satu biji tahu mentah masih dipatok Rp1.000. Caranya? Ia mengurangi porsi kedelai per proses produksi, bukan menaikkan harga di pasaran. Sebuah pengorbanan yang ia pilih demi pelanggan setianya.


Setiap hari, pabrik rumahan miliknya menghabiskan 180 hingga 230 kilogram kedelai yang dibeli langsung di Aloha Trenggalek. Dari 12 hingga 13 kali proses memasak dalam sehari, Teguh bisa menghasilkan ribuan tahu. Dalam sekali masak, lahir sekitar 380 biji tahu.


"Kalau sehari 13 kali masak, ya tinggal dikalikan 380 biji," ujarnya.


Dibantu 10 pekerja tetap dan satu pekerja tambahan, Teguh memproduksi tahu mentah dan matang yang rutin dikirim ke pasar-pasar setiap pukul 03.00 WIB. Di sanalah para ethek sebutan untuk pedagang keliling di Trenggalek berburu dagangannya sebelum matahari benar-benar terbit.


Namun, perubahan ukuran tak serta-merta diterima begitu saja. Di awal, protes dan kebingungan sempat mewarnai lapak-lapak pasar.


"Pertama ya masih ribet, pembeli juga belum tahu. Tapi lama-lama pembeli sadar kalau ada kenaikan harga kedelai. Akhirnya mereka mengerti," imbuh Teguh lega.


Kisah serupa juga dialami para perajin tempe dan penjual nasi pecel. Potongan tahu yang biasa tebal dan mengenyangkan kini harus rela menipis. Cita rasa di lidah mungkin masih sama, tapi yang hilang adalah kenikmatan visual dari sepiring pecel dengan tahu montok di atasnya.


Teguh pun berharap ada keajaiban dari pemerintah. "Naiknya Rp2.000 per kilogram! Dulu Rp8.500, sekarang Rp10.500. Ini sangat memberatkan. Harapan kami, harga turun lagi," tandasnya dengan nada penuh harap.


Di Trenggalek, tahu memang tak pernah mengecewakan lidah. Namun kini, para perajinnya hanya bisa berharap agar tahu tak terus "kurus" dan usaha mereka tak ikut mengerut bersama kedelai yang kian mahal.(Wwn)

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini