Trenggalek, Metro Jatim;
Bayangkan sekolah gratis, makan tiga kali sehari plus dua kali camilan, seragam dan buku ditanggung, bahkan biaya pulang kampung pun disediakan. Itulah realita yang ditawarkan Sekolah Rakyat Terintegrasi 50 Trenggalek kepada 75 siswanya saat ini.
Kepala sekolah Yogyantoro memastikan tidak ada satu rupiah pun yang dipungut dari orang tua. Semua biaya operasional, mulai dari perlengkapan siswa hingga kebutuhan asrama, diajukan melalui Rencana Anggaran Biaya (RAB) ke berbagai pihak seperti PPK, Biro Umum, hingga Pusdiklat Pemprov.
Namun, kemudahan ini dibayar dengan aturan ketat soal waktu berkumpul dengan keluarga. Para siswa yang tinggal di asrama hanya boleh dijenguk orang tua satu kali dalam dua pekan, tepatnya pada akhir pekan. Sementara untuk pulang ke rumah, kesempatan diberikan tiga kali setahun: saat libur semester ganjil, semester genap, dan Idulfitri, masing-masing dua minggu.
Bahkan, sekolah siap mengantar jemput atau memberikan uang saku bagi siswa yang pulang kampung.
Lantas, siapa yang berhak? Prioritas utama adalah keluarga miskin dan miskin ekstrem dari Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) kategori desil 1 dan 2. Seleksinya pun tidak terbuka untuk umum, melainkan melalui penjangkauan tertutup dan verifikasi lapangan oleh pendamping PKH, BPS, dan pemerintah daerah.
"Kalau ada anak layak tapi tidak masuk data desil, bisa pakai jalur kasus khusus dengan surat keterangan tidak mampu dari desa," jelas Yogyantoro.
Saat ini, dengan 75 siswa yang telah memenuhi kuota, sekolah tersebut menargetkan lonjakan besar pada tahun ajaran 2026/2027 menjadi 345 siswa, dengan masing-masing tiga rombel untuk jenjang SD, SMP, dan SMA. (Wwn)
