Pakan Naik, Harga Telur Malah Anjlok: Peternak Trenggalek Berhitung di Tengah Tekanan - METRO JATIM

Breaking

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Selasa, 26 Mei 2026

Pakan Naik, Harga Telur Malah Anjlok: Peternak Trenggalek Berhitung di Tengah Tekanan



Trenggalek, metrojatim.com ;

Ada yang tak biasa di kandang milik Sunardi akhir-akhir ini. Di balik ribuan ayam petelur yang masih rajin bertelur, pikirannya justru sibuk berhitung. Bukan menghitung untung, melainkan menghitung bagaimana cara agar usahanya tidak ambruk.


Di Kabupaten Trenggalek, para peternak ayam petelur tengah digempur situasi pahit. Setelah Lebaran, biaya pakan melambung tinggi, tetapi sayangnya harga jual telur justru merosot. Peternak seperti Sunardi pun terjepit.


Sunardi, warga Desa Ngares, mengakui bahwa usahanya yang dirintis sejak 2019 ini sedang diuji. Saat ini, harga telur di tingkat peternak hanya Rp 24 ribu per kilogram jauh dari masa normal yang biasa mencapai Rp25 ribu hingga Rp27 ribu per kg.


“Biasanya naik, ini malah turun. Sementara pakan, ya sudah jelas naik,” ujar sunardi saat ditemui, Selasa (26/5/2026).


Yang membuat Sunardi kian tertekan adalah ketidakberaniannya untuk mengurangi pakan. Di saat banyak pelaku usaha mungkin memangkas biaya, Sunardi justru memilih tetap memberikan takaran standar.


Sebab menurutnya, mengurangi pakan sama saja dengan memainkan risiko besar. Produksi dan kualitas telur bisa anjlok, dan itu adalah bunuh diri perlahan di bisnis ini.


“Kalau pakan dikurangi, nanti pengaruh ke hasil telurnya. Jadi mau tidak mau tetap dikasih sesuai kebutuhan,” katanya pasrah.


Saat ini, ia memelihara sekitar 1.200 ekor ayam petelur. Setiap hari, ia hanya bisa memanen sekitar 55 kilogram telur. Jumlah yang sebenarnya cukup lumayan, tapi tidak lagi berarti banyak setelah dipotong biaya pakan.


Sebagai gambaran, untuk setiap 100 ekor ayam saja, diperlukan 11 kilogram pakan per hari. Sementara ayam-ayam ini baru mulai produktif di usia lima bulan dan hanya bisa diandalkan hingga dua tahun ke depan.


Ironisnya, permintaan telur di pasaran justru meningkat. Toko-toko dan pedagang di Trenggalek disebut-sebut masih membutuhkan pasokan. Tapi lonjakan permintaan itu tidak cukup untuk menutup lubang biaya produksi yang terus melebar.


Pakan standar ukuran 50 kilogram, misalnya, naik dari Rp 345 ribu menjadi Rp 368 ribu per sak setelah Lebaran. Sebuah kenaikan yang terlihat kecil di atas kertas, tapi besar dampaknya di kandang.


Di tengah kegetiran ini, Sunardi memilih bertahan. Ia masih berharap harga telur kembali normal sebelum usahanya benar-benar tergerus.


"Saya hanya peternak kecil. Kalau harga terus begini, yang berat bukan hanya ayamnya, tapi kami juga," pungkasnya. (Wwn)

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini