Trenggalek Tak Mau Bergantung pada Satu Keranjang Pendapatan Wisata - METRO JATIM

Breaking

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Rabu, 20 Mei 2026

Trenggalek Tak Mau Bergantung pada Satu Keranjang Pendapatan Wisata



Trenggalek, metrojatim.com

Kabupaten Trenggalek selama ini punya primadona bernama Pantai Pasir Putih. Pantai itu bagaikan mesin uang yang terus menyumbang pendapatan wisata terbesar bagi daerah. Tapi Pemerintah Kabupaten Trenggalek mengambil keputusan yang mungkin tak terduga: tidak terus memoles primadona itu, melainkan melirik destinasi-destinasi lain yang selama ini kurang menarik.


"Kalau yang sudah banyak memberikan pendapatan kita sentuh lagi, maka kita tidak punya keranjang pendapatan baru," ujar Mochamad Nur Arifin, pejabat di lingkungan Pemkab Trenggalek.


Ia mengibaratkan strategi itu seperti diversifikasi investasi. Jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang. Maka dibangunlah beberapa spot yang selama ini terabaikan.


Salah satu yang mulai dibenahi adalah Pantai Prigi. Dulunya primadona, kini kalah populer dari Pasir Putih. Pemerintah berusaha mengembalikan kejayaannya. Lalu ada Goa Lowo. Sejak pandemi Covid-19, tempat ini sepi pengunjung. Isu kelelawar sebagai penyebar virus membuat wisatawan enggan datang. "Sekarang JLS dibuka malah jarang dikunjungi. Kalau tidak kita sentuh maka akan sepi," ungkap Arifin.


Tapi gebrakan terbaru justru ada di kawasan Bendungan dan Dilem Wilis. Di sana, pemerintah menghidupkan kembali mesin roasting kopi peninggalan Belanda. Targetnya, mesin kuno itu bisa berfungsi lagi. Wisatawan nantinya tak hanya menikmati kopi lokal Trenggalek, tapi juga mendapat pengalaman melihat proses roasting ala zaman kolonial.


"Selain kopinya bisa dijual, experience untuk tahu bagaimana dulu zaman Belanda me-roasting kopi itu nanti bisa jadi wisata," jelas Arifin.


Tak hanya kopi, kawasan itu juga akan menjadi sentra pengolahan susu. Pemkab Trenggalek berencana menghadirkan mesin sterilisasi susu untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). "Harapannya nanti bisa menjadi big push untuk peternak di sini supaya susunya tidak dikirim keluar kota lagi," katanya.


Menariknya, strategi ini bukan sekadar urusan pariwisata. Ada ambisi yang lebih besar: menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) tanpa menaikkan pajak. "Kalau tidak menaikkan pajak, pendapatannya tambah dari mana? Ya dari aktivitas pengelolaan aset yang kita punya," ujar Arifin.


Untuk mewujudkannya, Pemkab Trenggalek menyiapkan pembiayaan daerah sebesar Rp70 miliar angka yang turun dari proyeksi awal Rp150 miliar setelah memperhitungkan debt service ratio. Sebanyak Rp41 miliar untuk infrastruktur jalan, dan Rp29 miliar untuk pariwisata serta revitalisasi kawasan perkotaan.


Di bawah, investasi swasta sudah mulai tumbuh. Ada glamping di kawasan perkebunan kopi yang kini ramai dikunjungi. "Di bawah sudah ada pengusaha yang bikin glamping, di atas kita percantik, nanti traffic-nya pasti muncul," ucapnya optimistis.


Trenggalek sepertinya tak ingin lagi disebut hanya punya satu pantai cantik. Mereka ingin punya banyak keranjang. Dan keranjang-keranjang itu mulai diisi satu per satu. (Wwn)

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini