100 Hari Membisu, Ribuan Jiwa Terselamatkan: Khoirul Ansori dan Cara Membaca Alarm Alam Trenggalek - METRO JATIM

Breaking

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Rabu, 03 Juni 2026

100 Hari Membisu, Ribuan Jiwa Terselamatkan: Khoirul Ansori dan Cara Membaca Alarm Alam Trenggalek



Trenggalek, Metro Jatim; 

Tidak ada janji manis tentang air mengalir deras di pagi hari. Tidak pula gebrakan instan yang diumumkan dengan spanduk besar. Memasuki bulan kedua sejak dilantik pada 1 April 2026, Direktur Perumda Tirta Wening Trenggalek, Khoirul Ansori, justru memilih sikap yang tak biasa: diam, mendengar, dan memetakan.


Baginya, 100 hari pertama bukanlah panggung pencitraan, melainkan ruang sunyi untuk membedah satu per satu keluhan pelanggan yang selama ini seperti putus-putus.


“Kami bagi tiga tahap. Pemetaan masalah, implementasi, lalu realisasi dan evaluasi,” ujar Khoirul dalam wawancara baru-baru ini. Tiga puluh hari pertama, ia dan tim benar-benar berjalan ke titik-titik "luka" di jaringan air bersih Trenggalek.


Hasilnya, mereka menemukan "darah" yang mengucur diam-diam: kebocoran pada pipa transmisi dan distribusi. Ini bukan masalah kecil. Setiap tetes yang hilang adalah isak dari pelanggan yang gagal mendapat giliran air.


Tanpa banyak gembar-gembor, perbaikan mulai dilakukan. Jembatan pipa di kawasan Watulimo-Prigi yang merangkap kini dibenahi. Namun yang paling menarik perhatian adalah keputusan mereka untuk "menghidupkan" kembali Ground Reservoir di Bukit Jaas. Selama ini, fasilitas berkapasitas besar itu bagaikan raksasa yang tertidur. Kini, perlahan ia dibangunkan untuk menjadi jantung pasokan air, terutama bagi wilayah yang selama ini hanya mengandalkan jalur bypass.


“Kapasitasnya besar. Sayang jika tidak dioptimalkan untuk masyarakat,” tegas Khoirul.


Persoalan lain yang terkuak adalah ketidakadilan tekanan air. Dalam satu kawasan, ada pelanggan yang mandi dengan deras, sementara tetangga di seberang jalan hanya mendapat tetesan. Perumda Tirta Wening pun berencana memasang air valve dan stalpot semacam lampu lalu lintas bagi air agar distribusinya lebih adil dan aman.


Tak hanya itu, Khoirul juga menyadari bahwa "mata" pengukur air pelanggan sudah mulai kabur. Ratusan meter air yang sudah uzur akan diremajakan. Ini bukan soal ganti alat, tetapi soal akurasi dan kepercayaan. Ketika meter tak tepat, pelanggan membayar tidak sesuai pemakaian, dan perusahaan pun kehilangan data akurat atas air yang terdistribusi.


Langkah paling ambisius mungkin terjadi di wilayah Gandusari dan Kampak. Di sana, pipa berdiameter 1,5 inci bak "sedotan" yang tersedak. Ke depan, pelebaran menjadi 3 inci akan dilakukan agar napas distribusi air lebih lega. Harapannya, tekanan air tak lagi timpang, dan setiap keran di Trenggalek bisa mengalirkan cerita yang sama: air yang sampai, bukan hanya janji. (Wwn)

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini