Minimnya Pendaftar SD di Sekolah Rakyat Terintegrasi 50 Trenggalek, Orang Tua Belum Rela Lepas Anak ke Asrama - METRO JATIM

Breaking

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Kamis, 02 Juli 2026

Minimnya Pendaftar SD di Sekolah Rakyat Terintegrasi 50 Trenggalek, Orang Tua Belum Rela Lepas Anak ke Asrama



Trenggalek, Metro Jatim; 

Hanya tersisa empat hari menuju penutupan penerimaan peserta didik baru, Sekolah Rakyat Terintegrasi 50 Trenggalek masih berjuang menggenapi kuota jenjang sekolah dasar. Dari target 30 siswa untuk satu rombongan belajar, baru 26 calon siswa yang menyatakan minat.


Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi panitia penerimaan, mengingat masa pendaftaran akan segera berakhir. Berbeda halnya dengan jenjang SMP dan SMA yang justru nyaris memenuhi bahkan melebihi kuota yang ditentukan.


Saiful Nuryanto, Koordinator SDM Program Keluarga Harapan (PKH) Kabupaten Trenggalek, mengungkapkan bahwa kendala terbesar berasal dari faktor psikologis orang tua. Meskipun calon siswa berasal dari keluarga desil 1 dan 2 yang menjadi sasaran utama program, sebagian besar orang tua masih enggan melepas anak usia dini untuk tinggal di asrama.


"Rata-rata orang tua belum siap melepas anaknya tinggal di asrama untuk jenjang SD. Mereka lebih memilih menyekolahkan anak di sekolah umum yang dekat dengan rumah," ujar Saiful saat ditemui di kantornya, Rabu (1/6/2026).


Keengganan ini diperparah dengan fakta bahwa banyak calon siswa yang telah lebih dulu mendaftar di sekolah-sekolah umum lainnya. Panitia pun tidak dapat memaksakan kehendak, mengingat program ini menuntut kesiapan mental baik dari anak maupun orang tua.


"Kami tidak boleh memaksakan meskipun nama mereka sudah masuk daftar awal atau prelist. Keikutsertaan harus didasarkan pada kerelaan," tegasnya.


Untuk memenuhi kuota yang tersisa, Kementerian Sosial melalui SDM PKH mengerahkan seluruh pendamping untuk melakukan penjangkauan langsung ke masyarakat. Sebanyak 87 tenaga pendamping ditargetkan masing-masing memperoleh satu calon siswa untuk setiap jenjang pendidikan.


"Setiap pendamping kami targetkan menghasilkan satu calon siswa SD, satu SMP, dan satu SMA yang berminat masuk Sekolah Rakyat," jelas Saiful.


Dalam perkembangannya, tim juga melibatkan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) untuk memperluas jangkauan sosialisasi. Pendekatan door-to-door pun dilakukan untuk meyakinkan orang tua tentang berbagai fasilitas dan kemudahan yang ditawarkan Sekolah Rakyat.


Selama proses penjangkauan, tim menemukan fenomena menarik. Sebanyak 46 calon siswa yang secara faktual layak mengikuti program ternyata tidak tercantum dalam data desil 1 dan 2 milik pemerintah. Mereka tersebar di desil 3 hingga 9, namun kondisi ekonomi keluarga menunjukkan sebaliknya.


Saiful menjelaskan bahwa data kesejahteraan masyarakat bersifat dinamis sehingga seringkali tidak sejalan dengan realita di lapangan. "Kami menemukan keluarga yang secara ekonomi seharusnya masuk desil 1 atau 2, tetapi tercatat di desil yang lebih tinggi," ungkapnya.


Meski demikian, calon siswa dari kelompok ini tetap dapat mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat. Panitia akan membantu proses administrasi untuk penyesuaian data kesejahteraan keluarga agar sesuai dengan kondisi faktual.


"Anak-anak ini tetap bisa langsung bersekolah. Selanjutnya kami membantu melengkapi dokumen agar data desil keluarganya dapat diperbaiki," terang Saiful.


Berbeda dengan jenjang SD, animo masyarakat terhadap Sekolah Rakyat untuk tingkat SMP dan SMA justru tergolong tinggi. Untuk jenjang SMP, kuota awal 90 siswa dalam tiga rombel bahkan mendapat tambahan satu rombel karena tingginya minat pendaftar.


"Untuk SMP saat ini sudah empat rombel. Meski mendapat tambahan, masih kurang lima siswa agar seluruh rombel terisi penuh," kata Saiful.


Sementara itu, jenjang SMA yang menyediakan kuota 90 siswa kini telah terisi 84 calon peserta didik. Dengan demikian, masih diperlukan enam siswa lagi untuk memenuhi target.


Sekolah Rakyat Terintegrasi 50 Trenggalek merupakan program pendidikan yang menyasar keluarga kurang mampu dengan menyediakan fasilitas pendidikan dan asrama secara gratis. Program ini diharapkan dapat memutus rantai kemiskinan melalui akses pendidikan yang berkualitas.


Dengan tersisa waktu yang singkat, panitia terus mengoptimalkan berbagai upaya penjangkauan. Masyarakat yang merasa memenuhi kriteria dan berminat mendaftarkan anaknya masih dapat menghubungi pendamping PKH atau petugas TKSK di kecamatan masing-masing sebelum masa pendaftaran berakhir. (Wwn)

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini