Trenggalek, Metro Jatim;
Tak hanya menggerogoti kantong pedagang pasar, kenaikan harga plastik pasca-Lebaran kini mulai terasa hingga ke dapur-dapur kecil pelaku UMKM roti di Kabupaten Trenggalek. Yang semula hanya dikhawatirkan sebagai tekanan di sektor kemasan, kini merambat menjadi beban berlapis: dari bahan baku, tenaga kerja, hingga biaya angkut.
Muhammad Sulhan, seorang pengusaha roti rumahan di Trenggalek, mengaku usahanya sedang terhimpit. "Sangat terdampak," katanya. "Kenaikan harga plastik ini menimbulkan efek berantai. Bukan hanya kemasan, bahan baku lain ikut naik."
Sulhan mengatakan, dalam waktu dekat ia tak punya pilihan selain menyesuaikan harga jual rotinya. Pasalnya, harga dari pemasok sudah melonjak drastis. "Kami langsung dari pabrik naik 35–40 persen dari harga sebelumnya," ujarnya.
Kondisi serupa juga dirasakan para pedagang plastik di pasar tradisional. Catur Hermanto, salah satu pedagang, menyebut lonjakan tahun ini adalah yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. "Biasanya naik sedikit, sekarang sampai puluhan ribu," tuturnya.
Ia memberi contoh plastik kresek dari Rp36 ribu per ikat kini jadi Rp65 ribu. Gelas cup plastik yang dulu Rp13 ribu per slop melonjak jadi Rp24 ribu. Sterofoam pun ikut terdongkrak, dari Rp39 ribu menjadi Rp45 ribu per paket.
Di balik angka-angka itu, para pelaku UMKM roti kini terjepit. Di satu sisi, biaya produksi membengkak. Di sisi lain, daya beli masyarakat belum tentu mengikuti. Jika tren ini terus berlanjut, harga berbagai produk olahan UMKM di Trenggalek dipastikan akan naik dalam waktu dekat. (Wwn)
