Trenggalek, metrojatim.com;
Sebuah temuan penting kembali menguak tabir sejarah Jawa Timur. Warga Trenggalek dihebohkan dengan ditemukannya sebuah jambangan air berbahan batu andesit yang diduga kuat sebagai Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB). Uniknya, benda ini memuat inskripsi angka tahun yang diperkirakan lebih tua dari Prasasti Kamulan.
Temuan ini bermula dari momen tak terduga saat pelaksanaan Car Free Day (CFD). Namun, baru pada Rabu (8/4/2026) dilakukan identifikasi intensif oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Trenggalek bersama komunitas pegiat sejarah, seperti PESAT dan Laskar Mpu Sindok.
Pamong Budaya Disparbud Trenggalek, Heru Dwi Susanto, menjelaskan bahwa dari hasil identifikasi awal, ditemukan inskripsi menggunakan aksara Jawa Kuno (Kawi) dengan bentuk huruf timbul bergaya kuadrat.
"Setelah kami baca, angka tahun yang tertera adalah 1090 Saka," ujarnya, Kamis (9/4/2026).
Ketika dikonversi ke tahun Masehi, angka tersebut jatuh pada 1168 Masehi. Artinya, jambangan air ini berusia sekitar 858 tahun.
Lebih Tua dari Prasasti Kamulan
Yang membuat temuan ini begitu istimewa adalah usianya. Heru membandingkannya dengan Prasasti Kamulan yang selama ini dikenal sebagai salah satu peninggalan tertua di wilayah tersebut.
"Prasasti Kamulan bertuliskan tahun 1116 Saka atau 1194 Masehi. Maka, temuan jambangan air ini lebih tua beberapa puluh tahun. Ini sangat jarang terjadi di Trenggalek," ungkap Heru.
Bagian dari Tempat Peribadatan Hindu
Secara tipologi, bentuk dan fungsi benda ini mengarah pada era klasik Hindu. Para ahli menduga jambangan tersebut merupakan bagian dari kompleks peribadatan.
"Benda ini kemungkinan adalah wadah air untuk bersuci (tempat tirtha) yang biasanya diletakkan di bagian depan atau teras bangunan suci pada masa Hindu," tambah Heru.
Jika dikaitkan dengan catatan sejarah Kerajaan Kediri, tahun 1168 Masehi berada pada masa pemerintahan Sri Sarweswara dari Kerajaan Kadhiri (Panjalu). Hal ini membuka peluang baru bagi para sejarawan untuk menelusuri pengaruh Kerajaan Kediri di wilayah Trenggalek yang selama ini belum banyak terungkap.
Masih Diselidiki Asal-usulnya
Meski temuan ini sangat berharga, Disparbud masih menghadapi sejumlah pertanyaan besar, terutama soal asal-usul benda tersebut. Jambangan air itu ditemukan di area halaman samping Kantor BPR Jwalita Trenggalek.
"Kami masih mencari tahu apakah benda ini masih berada di lokasi aslinya (in situ) atau sudah dipindahkan. Sebab, BPR Jwalita hanya menyewa lokasi tersebut, dan benda ini sudah ada sebelumnya," jelas Heru.
Sebagai langkah awal pelestarian, pihak Disparbud telah meminta manajemen BPR Jwalita untuk melakukan perawatan sementara. Sementara itu, kajian lebih lanjut akan dilakukan untuk mengungkap misteri di balik jambangan batu bersejarah ini.
"Temuan ini sangat berharga bagi sejarah peradaban Trenggalek. Sangat jarang kita temukan benda dari era klasik yang memiliki inskripsi angka tahun seperti ini. (Wwn)

