Trenggalek, Metro Jatim;
Sejak dioperasikan, shelter atau rumah aman sementara milik Dinas Sosial, Perlindungan Perempuan dan Anak (Dinsos PPA) Trenggalek terus menerima penghuni baru hampir setiap hari. Para penghuni yang datang rata-rata merupakan warga kurang beruntung yang membutuhkan pertolongan.
Kepala Dinsos PPA Trenggalek, Habib Solehudin, mengungkapkan bahwa mayoritas penghuni shelter adalah Orang Terlantar (OT). Di posisi kedua terbanyak adalah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
"Sejak dibuka, shelter melakukan kegiatan setiap hari dan menampung beberapa sasaran. Kami peroleh dari laporan masyarakat, termasuk yang dikirim dari Watulimo malam hari," ujar Habib.
Proses penerimaan penghuni tidak pernah sepi. Sebagian besar berasal dari laporan warga yang peduli, serta temuan langsung petugas di lapangan yang segera ditindaklanjuti.
Setiap orang yang masuk shelter wajib menjalani proses asesmen. Tahap awal ini bertujuan untuk menentukan langkah penanganan yang tepat bagi masing-masing individu.
"Ketika yang masuk adalah ODGJ, otomatis kami rujuk ke rumah sakit. Sementara untuk OT, kami asesmen dulu asal-usulnya, lalu berupaya mengembalikan ke keluarga," jelas Habib.
Saat ini, katanya, kategori OT paling mendominasi di shelter Trenggalek.
Shelter tidak dirancang sebagai tempat tinggal permanen. Fasilitas ini hanya difungsikan sebagai lokasi penampungan sementara dengan batas waktu maksimal tujuh hari.
Selama kurun waktu tersebut, petugas melakukan pembinaan sekaligus menelusuri identitas dan asal-usul para penghuni melalui data biometrik.
"Shelter adalah penampungan sementara. Maksimal tujuh hari untuk pembinaan, sambil melihat biometrik mereka berasal dari mana. Kami berkomunikasi dengan Dinas Sosial asal untuk proses pemulangan," tambah Habib.
Sementara itu, untuk kasus ODGJ, Dinsos PPA langsung melakukan rujukan medis ke rumah sakit agar mendapat perawatan lebih lanjut. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam memberikan perlindungan sosial bagi warga rentan di Trenggalek. (Wwn)
