Musim Kemarau, Kebakaran Hutan dan Kekeringan Meluas di Trenggalek - METRO JATIM

Breaking

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Sabtu, 15 Agustus 2026

Musim Kemarau, Kebakaran Hutan dan Kekeringan Meluas di Trenggalek


Trenggalek, Metro Jatim; 

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kini menjadi ancaman bencana yang paling banyak terjadi di Kabupaten Trenggalek sepanjang masa kemarau tahun ini. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat, sudah ada 13 peristiwa kebakaran yang terjadi di tujuh desa berbeda. Situasi ini memicu imbauan serius bagi seluruh masyarakat untuk lebih waspada dan menghindari penggunaan api saat membuka lahan.

 

Kepala BPBD Trenggalek yang juga menjabat Penjabat Sekretaris Daerah, Stefanus Triadi Atmono, menyatakan tingginya angka Karhutla ini sangat erat kaitannya dengan kondisi kekeringan yang melanda sejumlah wilayah. “Hingga saat ini, tercatat 13 kejadian kebakaran di tujuh desa yang terdampak, semuanya beriringan dengan munculnya kekeringan,” ujarnya.

 

Selain bahaya kebakaran, dampak kekeringan sendiri kini sudah merambah ke sembilan kecamatan dan 22 desa di Trenggalek. Pihaknya masih terus melakukan penyelidikan di lapangan untuk memastikan penyebab pasti dari setiap titik api yang muncul. Namun, kondisi angin yang cukup kencang beberapa hari terakhir dinilai menjadi faktor utama yang mempercepat penyebaran api.

 

“Seperti yang terjadi siang ini, kembali muncul titik api di kawasan Gunung Sawe. Pola angin yang ada saat ini membuat api lebih mudah menjalar dengan cepat,” jelas Stefanus. Terkait dugaan adanya aktivitas pembakaran lahan yang dilakukan secara sengaja oleh warga, ia menegaskan tim masih melakukan pemeriksaan bersama unsur TNI, Polri, dan Perhutani.

 

Pihaknya juga telah mengirimkan pesan tegas kepada kelompok tani hutan maupun Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) untuk menghentikan kebiasaan membuka lahan dengan cara dibakar. Dari peristiwa-peristiwa yang sudah terjadi, rata-rata luas lahan yang hangus terbakar berkisar antara dua hingga tiga hektare, tergantung pada kondisi medan dan cuaca saat kebakaran berlangsung.

 

Di tengah ancaman api dan kekeringan, BPBD beserta seluruh mitra kerja tak hanya fokus pada pemadaman. Upaya pemenuhan kebutuhan air bersih bagi warga yang terdampak juga terus digencarkan. “Hari ini kami bersama tim yang didukung TNI dan Polri turun langsung mencari titik-titik mata air baru yang nantinya bisa dimanfaatkan warga,” kata Stefanus.

 

Selain mencari sumber air baru, distribusi air bersih ke wilayah terdampak juga dilakukan secara rutin. Setiap harinya, rata-rata sebanyak 14.000 hingga 20.000 liter air bersih disalurkan, dengan prioritas utama ke Kecamatan Panggul, Bendungan, dan Kampak. (wwn)

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini