Ambulans Tanpa Tarif Cak Kun yang Menembus Batas Wilayah dan Keterbatasan Ekonomi - METRO JATIM

Breaking

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Kamis, 20 Agustus 2026

Ambulans Tanpa Tarif Cak Kun yang Menembus Batas Wilayah dan Keterbatasan Ekonomi



Trenggalek, Metro Jatim; 

Bagi warga berpenghasilan rendah di Trenggalek, rencana berobat ke rumah sakit rujukan kerap terhenti sebelum dimulai. Bukan karena jarak yang jauh, melainkan beban biaya transportasi yang tak terjangkau. Kondisi inilah yang menggugah hati Sugeng Kuncahyo, atau akrab disapa Cak Kun, untuk menghidupkan layanan ambulans kemanusiaan bernama Siaga Lingkungan (Si-Galing).

 

Berbeda dengan layanan sejenis yang menerapkan hitungan biaya perjalanan, Si-Galing berdiri di atas prinsip swadaya dan pelayanan tanpa pamrih. Tak ada daftar harga yang dipasang, baik untuk penanganan darurat maupun pengantaran berobat rutin. Selama bertahun-tahun, Cak Kun dan timnya melintasi jalanan desa hingga jalan raya antarkota demi memastikan tak ada warga yang menyerah pada penyakit hanya karena tak mampu menyewa kendaraan.

 

Layanan Si-Galing tak berhenti saat pasien tiba di gerbang rumah sakit. Tim ini hadir mulai dari kondisi gawat darurat hingga perawatan jangka panjang yang butuh kunjungan berulang. Seperti kisah Fandi, warga Desa Kedunglurah Kecamatan Pogalan yang menderita luka bakar hebat akibat tersengat arus listrik tegangan tinggi. Perawatan yang harus dijalani secara terus-menerus tak lagi menjadi beban tambahan berkat dukungan transportasi rutin dari Si-Galing.

 

Bantuan serupa juga diberikan kepada Sukadi dari Kelurahan Sumbergedong yang membutuhkan pemantauan medis berkala, serta Murjani dari Desa Jatiprahu Kecamatan Karangan yang harus diperiksa ke dokter spesialis karena infeksi parah pada wajahnya. “Kami menemani mereka dengan sabar, sampai benar-benar pulih kembali,” ujar Cak Kun tentang komitmen pendampingan yang dipegang teguh.

 

Kebutuhan pengobatan tak selalu tersedia di kabupaten ini saja. Tak segan-segan, tim Si-Galing menempuh perjalanan berjam-jam bahkan lintas provinsi. Rute menuju Surabaya, Malang, Solo, hingga Jakarta sudah menjadi jalan yang sering mereka lalui demi membawa pasien mendapatkan penanganan yang tepat.

 

Biaya bensin dan perawatan kendaraan yang meningkat seiring jarak tempuh tak pernah menjadi alasan untuk menarik tarif dari pasien. Awalnya, seluruh kebutuhan operasional dibiayai dari kantong pribadi Cak Kun bahkan armada pertama dan penggantinya saat rusak berat pun dibeli dari tabungan pribadi. Seiring berjalannya waktu, kebaikan ini mulai menyentuh hati orang lain: sumbangan mobil jenazah dari dermawan Surabaya, serta bantuan satu unit ambulans dari Anggota DPR RI Dapil Jatim VII Novita Hardini kini melengkapi armada yang berjumlah tiga unit. Dua unit khusus mengangkut pasien, satu unit lainnya untuk pengantaran jenazah.

 

Bertambahnya jumlah kendaraan tak mengubah jati diri Si-Galing. Biaya operasional memang tak kecil, namun Cak Kun tetap memegang teguh aturan: pasien tidak perlu membayar apa pun. Bagi masyarakat yang berkeinginan membantu, donasi hanya diterima secara sukarela dan seikhlasnya sama sekali bukan syarat pelayanan.

 

Bahkan bagi keluarga yang benar-benar tak memiliki kemampuan, tim Si-Galing justru bergerak mencari dukungan dari pihak lain agar proses pengobatan tetap berjalan lancar. Hal ini dilakukan dengan sumber daya yang sangat terbatas: hanya ada dua pengemudi yang bertugas, yaitu Cak Kun sendiri dan seorang relawan anak yatim yang telah ia bina selama ini.

 

Bagi banyak orang, ambulans mungkin hanya alat transportasi. Namun bagi ribuan warga Trenggalek yang pernah dibantu, Si-Galing adalah jembatan harapan yang menghubungkan mereka dengan kesembuhan. “Saya tidak pernah memasang tarif sepeser pun. Tujuan kami hanya satu: tak ada warga yang berhenti berobat semata karena tak sanggup membayar biaya perjalanan,” tegas Cak Kun, menutup cerita tentang perjuangan sederhana namun bermakna besar ini. (wwn)

 

 

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini